Edisi 6 - Freedom For Palestine

Miris, sedih, kesal, geram, dan tentu saja marah setiap kali ada berita seputar kebiadaban Israel. Israel memang tak bisa dibiarkan. Mereka sudah menjajah dan merampok tanah Palestina. Aksi barbar yang dilakukan militer Israel terbaru adalah ketika mereka menembaki konvoi kapal dengan misi kemanusiaan untuk Gaza, Freedom Flotilla pada 30 Mei 2010 lalu dan menewaskan 16 orang dan puluhan relawan terluka. Dalam konvoi kapal itu ada sekitar 700 relawan dari 50 negara. 12 orang di antaranya ada WNI. Beragam profesi pula. Intinya, membawa bantuan media dan makanan untuk kaum muslimin di Gaza.

Bro, menyaksikan Palestina saat ini memang membikin sedih dan marah. Tapi kita tak bisa berbuat banyak. Jangankan kita, para pemimpin dunia Islam saja beraninya hanya mengutuk. Padahal, seharusnya mengirim ribuan pasukan untuk menghancurkan negeri Yahudi itu.

Padahal dulu, ketika penggagas negara Israel, Theodore Hertzl meminta tanah Palestina di tahun 1897, dia mendapatkan jawaban yang tegas dari Khalifah Abdul Hamid II, “Tanah itu bukan milikku, tetapi milik ummatku.” Konon saking murkanya, sang khalifah juga meludahi wajah Hertzl. Merasa tidak mungkin mendapatkan Palestina, Hertzl kemudian melakukan kerja sama dengan Inggris untuk merampas tanah Palestina dan melakukan persekongkolan untuk memecat Abdul Hamid II dari jabatan Khalifah.

Palestina memang telah lama menjadi bagian tanah air kaum muslimin. Bahkan Baitul Maqdis pernah menjadi kiblat pertama kita sebelum dialihkan ke Ka'bah. Dan status Palestina sebagai milik umat Islam semakin kokoh melalui perjanjian yang dibuat Amirul Mukminin Umar bin Khaththab dengan orang-orang Kristen Palestina. Saat itu Khalifah Umar membuat perjanjian yang terkenal dengan nama Al Ihdat Al 'Umariyyah (perjanjian Umar), yang berbunyi, “…atas nama Islam dan kaum Muslim. Isinya antara lain, 'Tidak boleh seorang Yahudi pun tinggal bersama kaum muslimin di Baitul Maqdis.” (Ibnu Jarir Ath Thabari, Tarikhul Umam wal Muluk, pada judul “Iftitah Baitul Maqdis”—Penaklukan Baitul Maqdis).
Maunya Mereka
Setelah Khilafah Islamiyyah (Pemerintahan Islam) runtuh orang-orang Yahudi seperti mendapat angin untuk kembali mendapatkan tanah Palestina. Dengan dukungan Inggris, Amerika dan PBB mereka bercita-cita mendirikan negara Israel Raya (Eretz Israel). Seperti yang dikatakan sang pengusul zionisme, Theodore Hertzl:
“Dari Nil ke Eufrat” (Theodor Herzl, Complete Diaries, Vol.II, hal 771)
Salahseorang anggota Jewish Agency for Palestine pun mengatakan hal yang sama:
“Tanah yang Dijanjikan memanjang dari Sungai Nil ke Eufrat. Itu termasuk bagian Suriah dan Lebanon” (Testimoni Rabi Fischmann, anggota Jewish Agency for Palestine, di depan UN Special Committee of Enquiry pada 9 Juli 1947)

Dikatakan bahwa Eretz Israel adalah tanah yang dijanjikan di dalam Talmud, meliputi wilayah Arab Saudi, Suriah, Yordania, Mesir, sampai ke Irak, atau wilayah yang sekarang membentang dari sungai Nil sampai sungai Eufrat. Ini merupakan suatu wilayah paling strategis di dunia sepanjang jalur Mesopotamia. Selain itu, wilayah ini mengandung sumber energi minyak bumi yang paling besar di dunia.
Negara Israel Raya Telah Dijanjikan Tuhan?
Mereka 'bersuara' untuk mengesahkan tindakan brutalnya merampok tanah Palestina:
“Negeri ini berdiri semata-mata akibat janji Tuhan sendiri. Oleh karena itu, meminta pengakuan atas keabsahannya tentulah tindakan yang menggelikan,” (Golda Meir, Perdana Menteri wanita Israel pertama)
“Negeri ini telah dijanjikan kepada kita dan karena itu berhak sepenuhnya atas tanah itu,” (Menachem Begin)

Satu suara dengan teman-temannya, Moshe Dayan, jenderal Israel yang terkenal keji dan selalu berkomentar tak kalah menyakitkan, “Jika terdapat buku injili, serta bangsa injili, maka haruslah ada pula negeri injili,” Dan ada satu lagi pernyataan yang bikin 'gerah' kita, “Negeri ini merupakan rumah historis bangsa Yahudi,” demikian pernyataan dalam memorandum organisasi Zionis tahun 1919.

Tapi benarkah alasan mereka itu? Bohong besar! Dr. Roger Geraudy, seorang intelektual Nasrani asal Perancis yang kemudian masuk Islam, berkomentar, “Ia sama sekali tidak mempunyai keabsahan, baik secara historis, injili, maupun yuridis untuk berdiri di tempat yang ia tegakkan sekarang ini,” tegasnya dalam buku yang ditulisnya, The Case of Israel a Study of Political Zionism.

Jadi dengan demikian memang tanah Palestina itu adalah milik kita, bukan milik “bangsa kera” itu. Setiap jengkal dari tanah milik kaum muslimin tidak boleh dikuasi oleh orang-orang kafir. Nekat menjarahnya, berarti urusannya darah. Kita tegas aja, Bro!
Permasalahan Utama
Kita udah ngerti bahwa mereka (kaum yahudi) emang yang salah. Tapi kita juga kudu introspeksi diri. Karena bisa jadi kita (umat Islam) juga punya salah, gede lagi salahnya. Nggak mungkin kan Umat yang telah Allah سبحانه و تعالى‎ nyatakan sebagai Umat terbaik kalah ama “bangsa kera”.

Oke yang jadi permasalahan utama dari semua ini ialah nggak adanya kesatuan umat Islam seluruh dunia. Batas semu nasionalisme udah memecah belah kaum Muslim. Seringkali ketika ada permasalahan di negeri kaum muslimin lain, Penguasa kaum muslimin berkata: urusi dulu negeri kita, disini juga masih banyak yang butuh pertolongan. Padahal Rasul صلى الله عليه و سلم udah jelas mengatakan:
“Perumpamaan kaum mukmin dalam kasih sayang dan belas kasih serta cinta adalah seperti satu tubuh. Jika satu bagian anggota tubuh sakit maka akan merasa sakit seluruh tubuh dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. al-Bukhari no.6011 dan Muslim no.2586, dari An Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu)
Ketika kaum muslimin disana merasakan sakit dan gelisah, sudah seharusnya kita merasakan sakit dan gelisah juga. Bukannya malah diem aja atau gak peduli ama sekali. Istilah anak muda mah “emangnya gue pikirin”. Orang yang kayak gini cuman peduli ama dirinya sendiri. Halah.. hare gene masih ada yang EGP, apa kata akhirat..

Mudah-mudahan kamu bukan termasuk orang kayak gitu. Karena sikap EGP adalah bukti udah lunturnya iman kamu. Sebagaimana Rasul صلى الله عليه و سلم katakan:
“Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. al-Bukhari no.13, Muslim no.45 dari Anas radhiyallahu 'anhu)
Oke kita kembali ke leptop. Saudara-saudara kita disana membutuhkan bantuan lebih dari sekedar makanan, obat-obatan, tim medis karena hal itu sifatnya sementara, lama kelamaan bakalan abis. Yang sebenarnya mereka butuhkan adalah kaum muslimin yang ikut berperang bersama mereka untuk mengusir Yahudi Laknatullah 'alaih dari negeri mereka.

Namun sayang, kita bisa lihat para penguasa negeri-negeri kaum muslimin sekarang.. Mereka hanya bisa mengecam dan mengecam atau istilah kita-nya-mah omdo alias omong doang. Kok gitu ya? yaialah.. kan saat ini dunia dikendalikan ama si Bos (AS dan sekutunya). Jadi mau engga mau kita kudu ngikut kebijakan dari si Bos yang nyata-nyata ngebela kaum Yahudi (karena kebanyakan orang di pemerintahan AS adalah orang/ keturunan yahudi). Buktinya udah jelas: 66 kali resolusi PBB untuk palestina (yang intinya berisikan dukungan atas hak-hak bangsa palestina dan pembelaan atas hak-hak hidup mereka) di-veto (dibatalkan) oleh AS. Kejam gak tuh. Ini adalah bukti nyata dukungan AS kepada Israel.

Jadi, gak perlu lagi ada perundingan apapun. Pemimpin kaum muslimin wajib membantu mereka dengan mengerahkan tentaranya (yang sebenernya bejibun/banyak en pada lagi kurang kerjaan) buat ngebantu saudara-saudara kita disana. Allah سبحانه و تعالى‎ berfirman:
“Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan” (TQS al-Anfal [8]: 72)
Sikap Kita
Umat ini memiliki kekuatan yang sudah lama terpendam dan menjadi tugas kita untuk membangunkan kekuatan terpendam itu. Sekiranya umat ini sadar dan fokus untuk mengembalikan kekuatan terpendam itu yakni Khilafah yang bakal menjadi solusi final atas tragedi Palestina maupun tragedi-tragedi di Dunia Islam lainya, tentu masalahnya tidak akan berlarut-larut seperti saat ini. Karena itu, jangan sekali-kali ragu untuk mendukung para pejuang Khilafah, sekaligus berjuang bersama mereka untuk mewujudkannya.
“Wahai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian untuk menuju sesuatu yang menghidupkan kalian” (TQS. al-Anfal: 24)
Allah سبحانه و تعالى‎ telah berjanji bahwa khilafah akan tegak kembali sebagaimana disampaikan lewat lisan Rasul-Nya:
“...Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian; kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad juz 4 hal. 273 dari an-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu)
Insya Allah siapa saja yang menyambut seruan kami ini akan diberikan balasan yang luarbiasa besar dari Allah سبحانه و تعالى‎.. Tunggu apa lagi bro! Mau sekedar jadi penonton kebangkitan atau jadi pemain kebangkitan?
Wallahua'lam bi as-shawab [syabab.com/gaulislam.com/rev24]

>>File buletin dalam format pdf dapat diunduh di sini

Edisi 5 - Kalau Cinta Jangan Maksiat

Hmm.. dari judulnya aja udah pastinya seru dibahas nih, apalagi kalo udah ngomongin cinta-cintaan nggak bakalan ada habisnya buat dibahas. Dari jaman baheula sampe sekarang yang namanya cinta selalu seru untuk diobrolin. Lihat deh acara-acara di tivi kebanyakan tentang percintaan. Nggak ketinggalan majalah remaja, tabloid, novel, sinetron, film layar lebar sampai reality show semua isinya percintaan. Kalo masih kurang lagu-lagu anak band sekarang tidak jauh dari lirik-lirik cinta. So, nilai jual cinta nggak bakalan turun (jiaaah, cinta kok dijual?). Termasuk tulisan ini juga akan membahas tema yang sama. Tapi sudut pandangnya Islam, karena kita adalah muslim.

Perasaan menyukai seseorang itu memang sulit untuk disembunyikan tapi kamu juga harus punya wawasan tentang cinta, wujud dari cinta itu sendiri, dan dampak dari cinta bila tidak terpenuhi dengan benar. Jangan buru-buru mengungkapkan cinta. Pelajari terlebih dahulu sedetail-detailnya tentang cinta. Apalagi kalau kamu sampai tahu tentang sejatinya cinta. Salut deh buat kamu.

Bro en Sis, cinta itu anugerah. Dateng gitu aja, tiba-tiba muncul tanpa diundang (dah kayak jalangkung!). Nggak peduli tua atau muda, cantik atau jelek, ganteng atau tampan (loh? Curang nih cow) love doesn't know difference deh. Kalo kamu udah suka sama lawan jenis, bisa lupa segalanya, mulai dari ngelamun, ketawa sendiri (cinta gila kali ya?) sampe rela ngelakuin apa aja demi sang pujaan hati. Gak sedikit dari remaja muslim yang memahami bahwa cinta itu harus diekspresikan dengan pacaran.
Mencintai Dengan Pacaran
Pacaran udah dijadiin simbol pergaulan modern. Kamu baru dianggap dewasa en gaul kalo udah punya doi. Kalau belum punya, siap-siap aja dinobatkan jadi pejabat, alias pemuda jaman batu. Dan itu bisa bikin kamu manyun en berjuang dengan semangat buat ngegaet sang buah hati, meski harus ngorbanin pulsa ama uang jajan. Sekaligus biar nggak disebut jomblo!

Sobat muda muslim, banyak teman remaja yang pacaran beralasan bahwa dia butuh seseorang yang bisa ngertiin dan merhatiin dirinya. Pokoknya, yang lebih dari sekadar temen, bisa mompa semangat bak cheerleader waktu kamu lagi putus asa, bisa jadi tempat berbagi rasa dan masalah, atau paling jauh buat ajang seleksi pasangan hidup. Tiap remaja membutuhkan orang dekat yang bisa mengingatkan dan membimbing tanpa harus menggurui. Dan biasanya teman sebaya atau lawan jenis berada di urutan pertama (emangnya klasemen) sebelum orangtua atawa guru.

Alasan-alasan temen kamu itu cuma pembenaran aja, biar aktivitas pacarannya dilegalisasi sekolah, dibolehin keluarga dan lingkungan.

Sobat, setan paling doyan nongkrongin orang yang lagi pacaran alias mojok, lho. Temen kamu boleh bilang pacaran itu manis, tapi sebenarnya itu jalan iblis! Ada juga yang bilang: “Itu kan tergantung orangnya?”. Bisa jadi. Tapi nggak selalu. Sekuat-kuatnya iman, tetep akan ambrol juga. Karena rasa cinta plus kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian akan selalu menghinggapi manusia selagi masih hidup. Seperti halnya hawa nafsu. Ketika berpacaran, batas antara cinta dan nafsu itu jadi bias, alias nggak jelas.

Nggak ada yang ngejamin kamu atau pacar kamu bisa jaga diri alias tahan godaan ketika lagi asyik berduaan. Awalnya mungkin cuma nonton bareng, makan bareng, pegangan tangan, berpelukan kayak teletubies, sampe teler abis. Udah gitu, wallahu'alam. En, kalo kamu udah lengket ama doi, kamu akan ngerasa berat banget untuk menolak “aksi gerilya” tangan pacar kamu yang bisa berujung kamu nggak gadis lagi. Ih, syerem..! Jangan sampe deh.
Pacaran Menurut Islam
Eh, ada yang protes nggak kalo masalah pacaran dikaitkan dengan Islam? Biasanya kalo protes itu mikirnya gini: “Yang penting kan ibadahnya? Ngapain kudu disangkut-pautkan dengan Islam. Pacaran aja selama itu nggak ganggu orang lain dan nggak sampe berzina”. Hmm…

Bro, Islam udah ngasih aturan yang jelas, harusnya kita bisa menerima Islam dengan sepenuhnya, bukan cuma sebatas ritualnya aja atau dijadikan formalitas aja. Aturannya menyangkut semua hal, mulai dari aturan negara sampai aturan untuk individu. Jangan sampe di antara kamu ada yang rajin ngaji, sholat juga nggak ketinggalan, tapi maksiat tetep jalan. Hadduch.. STMJ tuh mah (Sholat Terus Maksiat Jalan). Sholat sih sholat, tapi soal maming alias Malam Mingguan kamu ngerasa wajib untuk hadir ke rumah pacar kamu. Niat ngapel sambil pamit sama ortu si pacar, mau ngajak jalan-jalan cari udara segar (cari aja oksigen di rumah sakit, lagi bengek kali tuh!). Intinya supaya bisa berdua aja.

Oya, ada juga tuh temen kita yang beralibi alais ngasih alasan bahwa pacaran yang mereka lakukan itu islami. Hanya karena si perempuan menggunakan kerudung, kemudian sering sholat bareng, ke pengajian bareng, selalu mengucap Assalamu'alaikum diawal sms-an atau bertemu membuat mereka pede menyatakan bahwa “pacaran kami Islami”. Pas ditanya, apa dalilnya pacaran islami? Pada “ngahuleng” alias gak bisa jawab.

Bro en Sis, Allah سبحانه و تعالى udah berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (TQS. al-Isra [17]: 32)
Pacaran selalu identik dengan berduaan bersama lawan jenis. Istilahnya berkhalwat dengan yang bukan mahramnya. Saat berdua-duaan inilah kamu berkesempatan terjerumus ke dalam kemaksiatan bahkan lebih parahnya berzina. “Ingat, Kemaksiatan bukan hanya karena ada niat si pelaku, tapi juga karena ada kesempatan” (plesetan dari omongannya bang Napi jaman dulu). Bener banget tuh! Pas berdua-duaan kalo udah terpancing sama hawa nafsu setan, gampang banget kegodanya buat ngelakuin macem-macem, istilahnya tinggal tunggu jam tayang (dah kayak nonton bioskop aja).

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR. Ahmad)
Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget!

Bro, sebelum sampe berdua-duaan dengan lawan jenis, di awal-awal hubungan dengan lawan jenis udah diatur dengan baik lho dalam Islam. Supaya kejadian maksiat itu bisa dicegah karena peluangnya diminimalisir.

Allah سبحانه و تعالى berfirman (yang artinya):
“Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: 'Hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya ….' Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin perempuan: 'Hendaknya mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya…'.” (TQS. an-Nuur [24]: 30–31)
So, menundukkan pandangan adalah menjaga pandangan. Nggak dilepas gitu aja tanpa kendali yang memungkinkan bakal merasakan kelezatan atas birahinya kepada lawan jenisnya yang beraksi. Pandangan bisa dibilang terpelihara jika secara tidak sengaja melihat lawan jenis kemudian menahan untuk tidak berusaha melihat mengulangi melihat lagi atau mengamat-amati kecantikannya atau kegantengannya. Rasulullah صلى الله عليه و سلم pernah berkata kepada Sahabat Ali:
“Wahai Ali, jangan kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)
Dalam hadits yang lain. Rasulullah صلى الله عليه و سلم telah bersabda:
“Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (HR. Bukhari Muslim dari Ibn Abbas ra. dan Abu Hurairah ra.)
Zina dimulai dari yang terendah yaitu zina hati dengan bernikmat-nikmat karena getaran jiwa yang dekat dengannya. Kemudian zina mata dengan merasakan sedap memandangnya. Hingga berikutnya lebih mudah untuk terjerumus ke zina badan dengan, saling bersentuhan, berpegangan, berpelukan, berciuman, dan seterusnya hingga terjadilah persetubuhan. Ati-ati n Waspadalah!

Bor en Sis, dalam Islam nggak ada istilah pacaran, karena pada dasarnya aturan pergaulan dalam Islam adalah infishol alias “terpisah” dalam arti begini: cowok atau cewek hanya bergaul akrab dengan sejenisnya atau para mahram. Berhubungan dengan lawan jenis hanya masalah mu'amalah (bisnis, seperti di pasar antara penjual dan pembeli), pendidikan (seperti antara guru dengan murid atau dosen sama mahasiswanya) juga dalam masalah kesehatan (konsultasi dokter dengan pasiennya dan sejenisnya). Yang semuanya harus tetap syar'i.

Buat aktivis rohis atau siapa aja yang nganggep Islam-nya udah mantep.. jangan anggap diri kamu kuat iman, terus tetep ngeyel berdua-duaan, meski sembunyi-sembunyi. Sadarlah bro n sis, setan udah nipu kamu. Jelas, berdua-duaan itu adalah bukti lemahnya iman kamu. Kamu udah tahu bahwa hal itu salah, dan udah tau dalilnya tapi tetep kamu lakuin. Inget! ada Allah سبحانه و تعالى yang senantiasa melihatmu, dan akan ada Malaikat disampingmu yang terus mencatat semua amalmu.
Kalau cinta jangan maksiat
Sobat muda muslim, Allah mengkaruniakan naluri manusia (termasuk naluri mencintai) itu satu paket ama aturan maennya. Nggak bisa cara pemenuhan naluri itu semau gue. Karena manusia itu lemah, nggak tahu mana dan apa yang terbaik buat dirinya. Allah سبحانه و تعالى berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai? sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu? tidak mengetahui.” (TQS. al-Baqarah [2]: 216)
Termasuk dalam masalah cinta kepada lawan jenis. Allah سبحانه و تعالى udah ngasih aturan pemenuhannya melalui pernikahan seperti dicontohkan oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم Dengan begitu, manusia akan lebih mulia kedudukannya dan jelas asal-usulnya. Nggak kayak ayam yang maen sosor aja kalo lagi “pengen”.

Nah, sobat muda muslim, kalo rasa cinta itu diwujudkan dengan pacaran, berarti udah ngelanggar aturan Allah. Itu namanya maksiat. Selain dosa, kesengsaraan akan menimpa. Alih-alih sayang sama pacar, malah kamu bikin celaka. Makanya.. kalo kamu jatuh cinta jangan terus maksiat, karena akan rugi dunia akhirat!
Mengendalikan Rasa Cinta
Sobat muda muslim, sekarang kita udah tahu kalo pacaran itu nggak boleh (baca: haram). Terus kamu pasti berpikir gimana caranya bisa mengendalikan virus cinta itu. Tapi tidak untuk dihilangkan. Biar virus ini nggak bikin hati kita tergoda untuk pacaran. Mau tahu?

Rasa cinta itu muncul tatkala ada rangsangan dari luar. Rangsangan itu bisa berupa film yang berkisah tentang cinta, lagu-lagu melankolis, atawa majalah remaja yang nggak bosen-bosennya ngomongin cinta. Selain itu, pergaulan juga kudu diwaspadai. Seperti kata pepatah jawa, witing trisno jalaran soko kulino. Terjemah bebasnya, rasa cinta itu tumbuh karena keseringan meeting alias ketemu. Kebayang kan kalo kita bergaul bebas, persahabatan dengan lawan jenis akan menjadi lahan subur tumbuhnya benih-benih cinta.

Itu sebabnya, kita bisa mulai upaya mengendalikan virus cinta dengan membatasi pergaulan bebas. Dalam Islam, ada aturan mainnya lho. Ketemu atawa berinteraksi cuma seperlunya aja, jika memang diperlukan. Udah gitu, jika dikhawatirkan virus itu meradang lagi, tahan diri untuk nonton film romantis, dengerin musik cinta, en segala hal yang bisa bikin virus merah jambu itu aktif.

Nggak cukup sampe situ, kita juga kudu bangun benteng pertahanan dengan ikut pengajian. Karena dengan ikut pengajian, kecintaan terhadap Allah, keyakinan terhadap janji Allah, dan kebenaran aturan Allah bisa terpupuk. Dengan begitu, kita bisa istiqomah meski banyak penghalang. Jika Allah sayang kepada kita karena kita ngikutin aturan-Nya, kelak jodoh yang baik alias sholeh or sholehah akan datang menghampiri. Allah سبحانه و تعالى berfirman:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (TQS. an-Nur [24]: 26)
Sobat muda muslim, bisa jadi kamu ngerasa berat bin bete kalo harus berbuat kayak gitu. Tapi berat, bukan berarti nggak bisa. Pasti bisa. Masalahnya cuma waktu dan kemauan kamu untuk dapetin ridho Allah سبحانه و تعالى‎. Iya nggak?

Nah.. Buat kamu atau temen kamu yang masih aktif pacaran, pintu taubat insya Allah masih terbuka. Jangan sampe kita habiskan masa muda kita dengan menabung dosa tiap harinya. Nggak ada yang tahu kapan Allah سبحانه و تعالى‎ bakal “memecat” kita dari dunia ini ketika ajal menjemput. Sobat, mari kita kuatkan tekad untuk nggak pacaran. Jangan lupa, ikut pengajian! Oke? [STUDIA, Gaul Islam, Sobat Muda, edited by rev24]


>>File buletin dalam format pdf dapat diunduh di sini

Edisi 4 - [Jangan] Jadi Generasi Pembebek

Buat kamu-kamu remaja gaul, istilah pembebek ini penting banget buat kamu ketahui. Oke, semua pada tahu kan sifat khas bebek? Yap, betul.. jawabannya ialah budaya antri. Kalo kamu liat sekumpulan bebek sedang berjalan, pasti jalannya beriringan seperti sedang mengantri. Bebek yang di depan diikutin ama yang di belakangnya. Bebek yang di belakangnya juga diikuti ama yang dibelakangnya lagi. Begitu seterusnya. Begitulah sifat bebek, selalu mengikuti yang di depannya. Mau dibawa kemanapun ya ikut aja..

Sobat muda muslim, sifat inilah yang tak sadar diadopsi oleh kebanyakan remaja abad ini. Bisa kita lihat lah dari penampilannya yang banyak meniru-niru orang lain terutama artis atau idola mereka. Laki-laki ada yang seneng pake celana “pensil” alias ngetat ujungnya. Ada juga yang pede pas make jeans yang sengaja “tak sobek-sobek!” (hobinya mas tukul). Lebih parahnya, ada yang ampe pasang anting di telinga, di lidah, atau di hidung. Perempuan juga sama aja. Liat pakaian mereka kalo ke sekolah, semuanya sama alias seragam. Roknya pendek, terus kaos kakinya ditarik ke atas ampe abis. Entah ngikutin gaya siapa. Mungkin kamu yang lebih tahu. Mudah-mudahan di sekolah kamu gak ada yang begituan ya…Amin. Kalopun ada tolong dong diingetin, kan dia sobat kita juga.. upin dan ipin bilang: “betul betul betul..”

Semua gaya yang mereka tiru bukan tanpa sebab. Ada grand design yang dibuat dengan sengaja (Wah apaan tuh?). Kita bisa lihat semua acara di televisi yang sasaran penontonnya remaja, semua ada sponsor dan iklannya. Mulai dari sponsor kartel (kartu telepon), sepeda motor, rokok, dan muaasih banyak lagi. Nah..dengan massiv-nya acara-acara itu (bukan d'massiv grup band lho) telah membentuk pandangan umum yang sama di masyarakat. Bingung?? Jangan dulu ya.. Oke contohnya begini, di sinetron sering liat kan yang berdua-duaan alias pacaran? (pastinya..). Dengan terus, terus dan terus ditampilkannya adegan begituan membuat masyarakat menganggap baik pacaran itu. Bahkan sampai sampai banyak orangtua yang meng-amini (membolehkan) hal itu dilakukan oleh anaknya sendiri. Masya Allah.

Oia bro.. sori nih buat kamu-kamu yang sekarang masih menganggap pacaran itu boleh, sabar dulu ya.. jangan langsung alergi ama buletin ini.. atau langsung “tak sobek-sobek!” (nyante aja kalee!). Nanti kita bahas di edisi lain.

Kembali ke bahasan kita. Nah gitu.. jadi intinya ketika sebuah kesalahan 'dipropagandakan' (bahasa mahasiswa nih) secara terus menerus, maka kesalahan itu menjadi kebenaran. Wah cocok banget ama prinsip demokrasi, yaitu vox populi vox dei (suara rakyat suara Tuhan) dimana aturan yang dipakai di masyarakat ditentukan berdasarkan suara terbanyak. Misalnya aja di bandung, ketika peredaran miras dianggap baik oleh 'kebanyakan' anggota dewan (karena menguntungkan) maka peredaran miras pun akan dilegalkan. Wah..padahal kan belum tentu yang kebanyakan itu sebuah kebenaran.

Sobat muda muslim, sebagai muslim yang cerdas kamu kudu “ngeh” akan “penampakan” hal ini. Jangan sampai kita jadi orang yang polos dan akhirnya malah ikut-ikutan. Apalagi kalo ikut-ikutan buat ngerjain yang gak baek. Naudzubillahi min dzalik.

Jadi kamu emang harus punya yang namanya idealisme, biar gak jadi remaja yang cuman bisa 'latah'. Untuk lebih jelas tentang idealisme, kita akan buka definisinya langsung dari kamus. Kita pakenya KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Disitu ada tiga definisi, kita ambil salahsatunya aja yang mudah untuk dipahami. Dikatakan bahwa idealisme adalah “hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yg dianggap sempurna”. Ringkasnya, orang yang punya idealisme berarti orang itu akan hidup untuk mengejar tujuannya dengan jalan yang ia anggap sempurna.
Tujuan Manusia
Allah سبحانه و تعالى, sebagai Pencipta manusia lebih tahu tujuan diciptakannya manusia. Tujuan diciptakannya yaitu agar manusia menyembah kepada Allah سبحانه و تعالى‎ saja (QS. adz-Dzariyat: 56) dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun (QS. al-Maidah: 72).

Sebagai makhluk yang diciptakan, manusia memang udah sepantasnya mengabdi kepada Sang Penciptanya. Dengan begitu, apa aja yang diminta oleh Sang Penciptanya harus ia penuhi. Itulah makna dari islam, yang berarti ketundukan dan kepatuhan. Enggak pantas seseorang ngaku-ngaku islam tapi tidak mau diatur ama Islam. Orang yang kayak gitu biasanya sering kita sebut Islam KTP.

Sobat muda muslim, sebelum dilahirkan ke dunia (ketika di alam ruh) setiap manusia yang diciptakan oleh Allah سبحانه و تعالى mengakui bahwa Allah سبحانه و تعالى adalah Rabb-nya (QS. al-A'raf: 172). Tidak ada satupun yang mengingkarinya. Dengan demikian, secara fitrah seluruh manusia adalah Islam. Namun setelah berpindah ke alam dunia, banyak yang tersimpangkan. Nah, kita yang dilahirkan di indonesia dan berada dalam keluarga muslim sudah seharusnya untuk bersyukur. Alhamdulillah.. Coba kalo dilahirkan di amrik sana, mungkin kamu saat ini bukan beragama islam, tapi yang lain.
Jalan Yang Sempurna
Kehidupan ini ibarat jalan raya. Ada banyak sekali jalan yang dapat kita pilih. Namun diantara sekian banyak jalan, kita harus memilih jalan yang menghantarkan diri kita menuju tujuan, bukan malah menjauhkan kita dari tujuan atau membuat kita tersesat. Allah سبحانه و تعالى (Yang lebih tahu tujuan hidup manusia) telah menjelaskan jalan mana yang harus ditempuh oleh hamba-Nya agar selamat di akhirat dan dimasukkan ke dalam surga. Jalan ini adalah jalan yang sudah dilalui oleh Para Nabi dan Rasul pilihan. Jalan yang juga diikuti oleh para pengikutnya yang shalih. Jalan yang menghantarkan 10 orang sahabat Rasul صلى الله عليه و سلم mendapat jaminan masuk surga. Jalan inilah jalan yang sempurna, tidak ada jalan lain selain ini. Selain dari jalan ini menyesatkan semua. Inilah jalan Islam.

Allah سبحانه و تعالى berfirman,
“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” (TQS. Yunus: 25)
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam..” (TQS. Ali-Imran: 19)
Udah jelas kan. Kita gak bisa dan gak boleh ngambil jalan lain selain Islam. Itulah idealisme kita! Dengan menjadikan Islam sebagai idealisme, maka dalam kehidupan ini kita akan selalu berpegang teguh dengan aturan-aturannya. Hayoo..siap gak?

Oke kita kembali ke leptop. Nah sobat muda muslim, masih mau jadi bebek? Yang kerjaannya cuman ikut-ikutan. Pasti enggak kan.. Udah saatnya kamu menjadi pemimpin, bukan pembebek. Atau istilah kerennya “You are the leader, not the follower”. Pemimpin dalam hal apa? Ya dalam semua kebaikan. Jangan mau dipimpin oleh peradaban barat yang jelas-jelas rusak. Peradaban yang membolehkan remaja bergaul dengan siapa saja, dengan cara apa saja asal tidak mengganggu orang lain. Pokoknya permisif deh, alias serba boleh. Dampak buruknya udah keliatan. Banyak anak disana yang terlahir tanpa jelas siapa bapaknya. Engga mau kan jadi kayak gitu? (ih amit amit).
Kita Adalah Umat Terbaik
Sobat muda muslim, Umat Islam telah Allah سبحانه و تعالى nyatakan sebagai umat terbaik sebagaimana tertulis dalam al-Qur'an,
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (TQS. Ali-Imran: 110)
Namun tentu saja, umat yang terbaik itu memiliki ciri seperti yang telah dijelaskan ayat diatas. Umat terbaik akan senantiasa menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, artinya selalu berdakwah. Juga beriman kepada Allah سبحانه و تعالى.

Tapi kenapa ya..umat terbaik justru perilaku-nya gak mencerminkan umat terbaik. Lihat aja, mulai dari pencuri kelas teri yang biasa beroperasi di mesjid-mesjid (nyuri sepatu, sendal atau tas) ampe kelas kakap yang berjas dan berdasi (kayak di dewan sana) banyak dari umat Islam (gimana nih..). Selain itu masih banyak perilaku-perilaku lain yang bertentangan ama aturan Islam.

Dulu nih ya, umat Islam bisa bangkit karena mempraktekkan Islam bener-bener. Sedangkan eropa bisa bangkit (dari dark age-nya) karena meninggalkan agamanya (karena setiap orang yang berpendapat yang bertentangan dengan gereja harus mati, termasuk ilmuwan yang menyatakan bumi itu bulat, sedangkan pada saat itu gereja berpendapat bahwa bumi itu datar).

Nah, dengan melihat fakta saat ini dimana masih banyak orang Islam sendiri yang gak mempraktekkan Islam, dan justru meninggalkan Islam dan membebek pada peradaban barat maka konsekuensinya ya Islam gak akan bangkit!
Kita harus pede
Ya..udah saatnya kita gak lagi jadi pembebek. Kita harus pede. Pede menjadikan Islam sebagai idealisme kita dan berani menampilkan wajah Islam sebenarnya. Gak lagi ada yang ditutup-tutupin. Misalnya aja dakwah. Kalo emang dakwah wajib, ngapain kudu malu kita jalanin. Emang berat sih pas awalnya. Tapi kalo udah terbiasa nggak jadi masalah. Kayak bangun pagi buat berangkat sekolah, kalo tiap hari dibiasain bangun cepet, yakin otomatis bakal bangun cepet tiap pagi walaupun gak pake alarm. Semua memang butuh pembiasaan. Siap ya? Kan mau jadi pemimpin.. atau pengen tetep jadi pembebek (engga lah yau). [rev24]


>>File buletin dalam format pdf dapat diunduh di sini

Edisi 3 - Setelah Ujian Nasional Berlalu

Hasil UN
Buat yang dah lulus..selamat ya. Kamu udah berhasil melewati ujian yang satu ini. Tapi inget.. jangan keenakan.. ini baru satu dari sekian banyak ujian hidup. Masih banyak ujian lain di depanmu yang siap menanti..wah wah.

Btw..Tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) siswa SMA dan MA tahun ini secara nasional mengalami penurunan sebesar 4 persen dibanding tahun lalu, yaitu dari 93,74% menjadi 89,88%. Dari total peserta UN tingkat SMA/MA tahun 2010 ini sebanyak 1.522.162 siswa terdapat 10,12 % siswa yang mengulang. Sementara jumlah siswa yang tidak mengulang sebesar 89,88%.

Mendiknas mengatakan, dari 154.079 siswa yang harus mengulang UN, sebanyak 69,5% hanya mengulang satu mata pelajaran, 18.5% siswa mengulang dua mata pelajaran, 6,5% siswa mengulang tiga mata pelajaran, 3,2% mengulang 4 mata pelajaran, 1,7% mengulang 5 mata pelajaran dan 0,6% mengulang 6 mata pelajaran. Wow banyak juga ternyata…Buat kamu yang 'lulusnya tertunda', jangan jadi minder en kuper ya... Tetep semangat!
Penyebabnya
Kita gak bisa pastiin kalo penyebab semua itu cuman karena siswa yang ‘kurang maksimal belajar’, atau guru yang ‘kurang maksimal mengajar’, juga sarana penunjang yang ‘kurang memadai’. Wah serba kurang ya.. Tapi yang jelas, ada yang salah pada kebijakan pendidikan di negeri ini. Masa vonis lulus atau gak lulus ditentuin ama hasil ujian yang cuman sesaat dan lebih mengedepankan angka-angka. Kan belom tentu seorang siswa yang 'gak lulus' itu tidak cerdas. Kalo vonis lulus atau engga cuman berdasarkan hasil ujian nasional (UN), secara nyata peran guru untuk melakukan evaluasi terhadap siswa udah dipinggirkan alias gak dianggap. Jadi meskipun siswa itu terkategori mampu menyelesaikan dengan baik evaluasi-evaluasi yang diberikan gurunya di sekolah, kalo belom bisa menyelesaikan evaluasi standar nasional ya nda bisa lolos..eh lulus.

Emang sih, Syarat kelulusan kali ini terdiri atas empat aspek, yaitu telah merampungkan seluruh program pendidikan, lulus aspek akhlak dan kepribadian, lulus mata pelajaran yang diujikan sekolah, serta lulus mata pelajaran yang diujikan melalui ujian nasional. Dan untuk lulus UN, nilai minimal masing-masing mata pelajaran adalah 4,00 dan nilai rata-rata mata pelajaran harus lebih besar dari 5,5.

Syarat pertama udah jelas, pasti setiap yang ikut UN adalah siswa yang sudah 'rampung' belajar. Syarat yang kedua nih…yang rada ngeganjel. Rasa-rasanya sekolahan gak bakalan tega mentidakluluskan siswanya gara-gara akhlak dan kepribadiannya yang buruk. Coba liat di tv…meski para siswa itu lulus, kelakuannya tetep aja gak 'mutu'. Ada yang corat-coret baju, konvoi motor tanpa helm plus bikin macet pula. Nah itu kalo lulus.. Engga jamin deh gimana kelakuan mereka kalo engga lulus. Udah liat sendiri kan di tv..yang gak lulus ampe ngerusak sekolahannya. Emh..

Nah.. jadi yang paling penting sekarang itu ya cuman dua; Ujian Nasional ama Ujian Sekolah. Untuk UN sendiri, kita tahu bahwa sejak tahun 2008 ada penambahan mata pelajaran yang diujikan pada masing-masing program. Yang asalnya cuman tiga mata pelajaran jadi ditambah tiga mata pelajaran lagi. Dengan begitu, beban para siswa jadi tambah berat. Eit, jangan jadi beban ya..jadikan ini sebagai tantangan. Oke?
Tanggungjawab Semua
Fenomena penurunan tingkat kelulusan ini sudah sepantasnya menjadi tanggungjawab semua pihak. Mulai dari pemerintah yang harus lebih adil dalam penyelenggaraan pendidikan. Guru yang lebih serius memotivasi dan mendidik siswanya. Siswa yang lebih semangat belajar dan aktif mencari ilmu diluar sekolah. Orangtua yang lebih perhatian kepada anaknya. Juga peran-peran lain yang turut menunjang keberhasilan sang siswa.

Dengan demikian, terkait pendidikan ini setiap diri punya tanggungjawabnya masing-masing.
Penurunan Kelulusan Bukti Kejujuran?
Menurut Mendiknas, salah satu faktor penyebab menurunnya tingkat kelulusan adalah pengawasan UN yang lebih ketat. Sehingga siswa mengerjakan soal sesuai dengan kemampuan diri. Berarti kalo gitu tahun-tahun sebelumnya tingkat kelulusan bisa lebih tinggi karena pengawasan yang kurang ketat ya?..dan lebih tidak jujur? #_#

Nah terus apa iya penurunan kelulusan sebanding dengan peningkatan kejujuran? Kayaknya engga tuh... tingkat kejujuran masih gak banyak berubah…buktinya di beberapa kota yang tingkat kelulusannya menurun, tetep aja kunci jawaban beredar bebas pas ujian. Atau yang salah kuncinya ya? Ampe ampe ada yang nilai bahasa indonesia-nya cuman nol koma.. Masa sih nilainya ampe sejelek itu. Kalo ada yang ngerjain sendiri trus nilainya cuman segitu, wah kebangetan itu mah…

Okelah terlepas dari semua itu, kita sebagai seorang muslim kudu tinggalin yang namanya nyontek. Gak berkah! Buat apa kita lulus dengan cara nipu diri sendiri. Betul gak?
Jadikan Pelajaran
Jadi, sebenernya penurunan kelulusan itu sebenernya bukan bukti kejujuran, tapi bukti gagalnya sistem pendidikan. Karena sistem pendidikan yang baik pasti gak mungkin menghasilkan output yang 'buruk'.

Ujian Nasional yang saat ini dijadikan standar kelulusan telah membuat jurang pendidikan kota dan daerah semakin melebar. Secara tak langsung, akan terus ada upaya dari oknum pendidikan yang ingin meminimalisir jurang tersebut dengan melakukan cara-cara curang, demi tercapainya nilai minimum kelulusan di suatu daerah/sekolah.

Bukan cuman itu, dengan banyaknya siswa yang stress karena tidak lulus Ujian Nasional telah menambah panjang dampak negatif dari adanya UN ini. Wajar saja ada sebagian siswa yang melampiaskan kemarahannya dengan merusak sekolahnya bahkan yang paling ngeri sampai bunuh diri. Astaghfirullah.. UN masih jadi PR besar buat negeri ini.

Dari semua kejadian ini, ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Pertama, selama sistem pendidikan masih berorientasi pada nilai maka kecurangan demi kecurangan akan terus terjadi. Kedua, selama pendidikan formal tidak terintegrasi dengan nilai-nilai Islam maka perilaku-perilaku buruk siswa akan terus ada.
Islam Punya Aturan
Setiap melakukan perbuatan, kita dituntut untuk selalu meluruskan niat kita. Termasuk ketika kita menuntut ilmu.
“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jangan sampai motivasi kita datang ke sekolah itu karena disuruh orangtua, atau cuman sekedar ngabisin waktu aja. Kalo itu motivasinya, ya gak bakal dapet dah pahala menuntut ilmu. Apalagi dalam islam menuntut ilmu itu masuk kategori amalan wajib. Pahalanya gede bro!
“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Allah سبحانه و تعالى pun berjanji kepada para pencari ilmu:
“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya dengannya (ilmu tersebut) jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Dalam beramal, udah menjadi keharusan bagi kita untuk melaksanakannya dengan jalan yang benar. Begitu pula halnya dengan menuntut ilmu, kejujuran adalah jalan yang benar. Rasulullah صلى الله عليه و سلم berpesan kepada kita sebagai umatnya:
“Kamu harus selalu bersifat jujur, maka sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan membawa ke surga. Dan senantiasa seseorang bersifat jujur dan menjaga kejujuran, sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ilmu yang telah kita dapatkan akan menjadi lebih sempurna dan menjadi ladang pahala yang akan terus mengalir meskipun kita sudah wafat apabila ilmu itu kita sampaikan pada orang lain sehingga orang itu mendapatkan manfaat daripadanya.
“Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga, yaitu … , ilmu yang bermanfaat….” (HR. Muslim)
Sobat muda muslim, Itu baru secuil dari aturan Islam tentang pendidikan, belum seluruhnya. Gak cukup kali kalo ditulis disini semua. Lebih dari itu, Islam nggak cuma ngatur urusan shalat, zakat, puasa, haji, ditambah pendidikan yang baru kita bahas, bahkan sampe masalah ekonomi, sosial, politik..pokoknya semua deh. Inilah Islam yang disebut sebagai sebuah ideologi (way of life). Gak akan beres permasalahan kalo ngambil Islamnya sebagian-sebagian. Istilahnya mah udah satu paket, komplit lagi.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS. al-Baqarah: 208)
Kita bisa liat bagaimana ketika sistem pendidikan ala Islam diterapkan muncul tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina yang dikenal sebagai peletak dasar ilmu kedokteran dunia. Juga Ibnu Khaldun (Bapak ekonomi), Ibnu Khawarizm (Bapak matematika), Ibnu Batutah (Bapak geografi), Al-Khazini dan Al-Biruni (Bapak Fisika), Al-Battani (Bapak Astronomi), Jabir bin Hayyan (Bapak Kimia), Ibnu Al-Bairar al-Nabati (Bapak Biologi) dan masih banyak lagi lainnya. Mereka dikenal tidak sekadar paham terhadap sains dan teknologi namun diakui kepakarannya pula di bidang ilmu diniyyah.

Dengan demikian telah terbukti bahwa Islam mampu membangun peradaban manusia yang khas dan mampu menjadi pencerah serta penerang hampir seluruh dunia dari masa-masa kegelapan menuju kejayaannya selama kurang lebih 13 abad lamanya. Dan faktor yang paling menentukan atas kegemilangan Islam membangun peradaban dunia adalah keimanan dan keilmuannya. Tidak ada pemisahan diantara keduanya.

Jelas kan..kalo pengen mutu pendidikan kita oke, pake syariat Islam. Dan syaratnya, tentu aja, terapin dulu Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sebab, aturan pendidikan udah satu paket ama aturan masyarakat dan negara. Mari kita sama-sama berjuang demi kebangkitan Islam yang hakiki yaitu penerapan syariat Islam di setiap bidang kehidupan. Ayo tunggu apa lagi bro.. [rev24]


>>File buletin dalam format pdf dapat diunduh di sini

Edisi 2 - Kartini, Emansipasi, dan Islam

Tak ada yang salah dengan perjuangan Kartini. Toh beliau memang hidup di alam penjajahan dan jaman feodalisme Jawa masih mengungkung erat. Jaman ketika perempuan masih dianggap rendah sekedar “konco wingking” alias teman di belakang bagi para pria. Maksudnya perempuan itu tempatnya cuma dapur, sumur, dan kasur. Astaghfirullah.. Perempuan nggak boleh ikut mengurusi selain ketiga hal itu. Karena urusannya cuma itu, maka nggak perlu perempuan sekolah tinggi-tinggi. Nggak ada gunanya. Toh, nanti kembalinya juga bakal ke dapur lagi.

Kartini, sebagai seorang perempuan cerdas, nggak terima dengan kondisi ini. Apalagi lingkungan bangsawan Jawa membuatnya sering bergaul dengan noni-noni Belanda yang dianggapnya mempunyai derajat lebih tinggi. Kartini pun ingin seperti mereka. Ia ingin derajat kaumnya meningkat melalui dunia pendidikan.

Nah, seringkali perjuangan Kartini dipelintir, berhenti cukup sampai di sini. Jadilah mereka menjadikan sosok Kartini sebagai sosok pejuang emansipasi yang berusaha memperjuangkan kesetaraan hak perempuan.

Mereka lupa (atau pura-pura lupa?) bahwa ada lanjutan dari kisah hidup perjalanan Kartini. Selain berkorespondensi dengan noni-noni Belanda, Kartini juga belajar membaca al-Quran dengan salah satu Kyai di jaman itu. Sayangnya, guru yang menjadi guru ngaji Kartini adalah orang yang berpikiran kolot dengan menyatakan bahwa kitab ini terlalu suci untuk diterjemahkan. Kartini sedih, bagaimana mungkin ia bisa memahami isi kitab suci bila ia tak mengerti makna apa yang dibacanya.

Dari sinilah diskusi-diskusi kecil Kartini muda tentang Islam dimulai. Hingga salah satu buku fenomenal yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang adalah terinspirasi dari salah satu ayat al-Quran (minadzulumaati ila nuur.. dari gelap menuju cahaya).

Tidak berhenti sampai disini, Kartini pun akhirnya menyadari bahwa apa yang diperjuangkannya bukan karena ingin bersaing dengan para pria. Pendidikan bagi perempuan yang ia maksudkan adalah sebagai upaya agar perempuan bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Karena anak-anak yang baik dan berkualitas hanya bisa terlahir dari ibu-ibu yang terdidik, bukan yang bodoh.

Kartini yang sempat kagum dengan kemajuan yang dicapai oleh wanita Barat akhirnya mengalami perubahan pemikiran setelah dirinya mengenal Islam: “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]. Artinya bahwa budaya Barat bukanlah parameter keberhasilan dalam pembentukan peradaban baru yang bermutu. Bravo Ibu Kartini!
Sejarah Memihak
Kembali ke sejarah Ibu Kartini, sebagian kalangan yakin bahwa sejarah indonesia kental dengan nuansa Jawa minded. Kartini yang gemar berkirim surat dengan noni-noni Belanda memang lebih terkenal dibanding Dewi Sartika, seorang pejuang pendidikan dari Sunda; juga Cut Nyak Dien, sang panglima perang dari Aceh; dan Malahayati, sang laksamana armada laut dari Aceh; atau Rohana Kudus dari Padang, seorang jurnalis perempuan pertama dari Indonesia.

Akan tetapi, dibanding nuansa Jawa minded, masih lebih kental nuansa meminggirkan peran Islam (dalam pembentukan peradaban). KH. Ahmad Dahlan telah mendirikan sekolah “Islam” Muhammadiyah di tahun 1908, beberapa tahun lebih dulu daripada sekolah Taman Siswa. Namun mengapa Ki Hajar Dewantoro yang jadi “Pahlawan Pendidikan”? Sama halnya dengan Sarekat Islam yang berdiri sebagai organisasi nasional “Islam” pertama yang berusaha mempersatukan bangsa dan bangkit melawan penjajah, namun mengapa organisasi Budi Utomo yang dianggap sebagai “Pelopor Kebangkitan Nasional”, padahal jelas-jelas anggota Budi Utomo hanya boleh dari suku Jawa?

Sudah saatnya bangsa ini meluruskan kembali sejarah nasionalnya. Bukan zamannya lagi meminggirkan peran Islam bahkan membungkam aktivisnya dengan dalih apa pun. Nama Malahayati, Tengku Fakinah, Rohana Kudus, Cutpo Fatimah, Nyak Raniah, Cutpo Hasbi dan banyak nama lain yang berawalan Cut telah menunjukkan kiprahnya tentang hak dan kewajiban berdasarkan Islam. Meskipun mereka bukan perempuan Jawa, so what?

Kartini tidak pernah meminta dilahirkan sebagai perempuan Jawa yang terkungkung dan terbelakang. Yang ia inginkan hanyalah hak perempuan untuk dihormati secara layak dan mendapat pendidikan sebaik-baiknya. Jadi tidak perlu mendramatisir kehidupan Kartini apalagi menungganginya atas nama kebebasan perempuan yang kebablasan yang kini lebih dikenal dengan istilah emansipasi.
Kartini dan Emansipasi
Sobat muda muslim, Yang Kartini perjuangkan itu adalah peningkatan harkat dan martabat wanita yang pada saat itu memang direndahkan dan juga menuntut hak-hak wanita yang memang sudah menjadi hak-nya seperti pendidikan dsb. Sangat berbeda dengan emansipasi wanita yang getol digembor-gemborkan barat sejak abad ke-14 M yang bertujuan agar wanita memperoleh persamaan hak dan kebebasan seperti kaum pria. Padahal dalam Islam udah dijelasin tadi kan kalo Pria dan wanita itu secara fitrah memiliki peran termasuk hak dan kewajiban yang berbeda.

Nyatanya, paham emansipasi yang kini berkembang di kaum muslimin dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu, sebutlah para Pengusaha. Di alam emansipasi ini, Pengusaha memberikan kesempatan kerja seluas-luasnya kepada wanita. Wanita mereka tempatkan sebagai komoditi industri. Diantaranya ialah di bidang periklanan. Wajah dan tubuh wanita yang menarik sengaja ditunjukkan untuk menarik minat dan selera konsumen. Coba bayangin, betapa konyolnya, iklan parfum belum lengkap kalau tak ada gadis berbodi aduhai yang mendampinginya. Wafer coklat rasanya belum manis kalau tak menyertakan penampilan gadis dengan bibir sensual yang mengunyahnya. Waduh..gaya dan kata-katanya bikin gimanaaa..gitu. Bahkan ada iklan wafer yang dibawakan dengan gerakan kaki. Apa hubungannya coba? Bener-bener dah kacau nih dunia.  Astaghfirullah..

Begitu banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya yang sengaja diberikan kepada kaum wanita untuk memanfaatkan kecantikan wajah dan keindahan tubuh mereka. Sebutlah presenter TV, artis sinetron, penyanyi, dsb.

Akibat lanjut dari semua ini pelecehan seksual menjadi tren tersendiri. Digandrungi sekaligus dikecam. Saling tunjuk hidung antara kaum cowok dan kaum cewek sudah biasa. Sama-sama tak mau disalahkan. Kaum pria protes ketika dituduh sebagai biang kerok pelecehan seksual. Ramai-ramai para pria berdalih bahwa penampilan para cewek yang menggoda-lah penyebabnya! Masalahnya beres? Tak cukup sampai di situ, ternyata kaum wanita juga menyalahkan para cowok karena mereka tak mampu menahan nafsu. Tak ada yang mau kalah dan disalahkan. Kacau banget kan? Itulah dampak buruk dari emansipasi ini. Masya Allah..

Sobat muda muslim, khususnya anak puteri calon Ibu (Amin..Insya Allah), jangan mau deh jadi korban gaya hidup sekarang. Maklumlah, kehidupan sekarang ini banyak godaannya. Keikutsertaan perempuan dalam aktivitas kehidupan di luar rumah dengan jumlah waktu yang lebih banyak, justru akan menjadi bumerang. Gimana nggak, kalo semua perempuan bekerja di luar rumah dengan semboyan P4 (pergi pagi pulang petang), maka dengan siapa nantinya anak-anak akan belajar tentang kehidupan? Lha, pas pergi anak masih tidur. Eh, pas dateng anak udah tidur. Gimana mau nyalurin kasih sayang ama perhatian dong? Itu semua dah banyak terjadi saat ini. Banyak anak yang terjerumus ke dalam “kenakalan remaja” gara-gara ortunya terlebih lagi ibunya gak membimbing dan perhatian ama mereka. Pantes..
Andai Kartini Tahu
Kasihan Kartini.. Andai ia sudah mengenal Islam saat itu sebagai sebuah sistem kehidupan, dan bukan hanya sebagai kitab yang terlalu suci untuk diterjemahkan, maka sudah tentu surat-surat semacam curhat dan keluhan Kartini itu tak akan muncul.

Sebaliknya, dia akan sibuk berkiprah di tengah masyarakat untuk memperjuangkan tegaknya sistem hidup Islam karena hal yang ia perjuangkan nyatanya sudah tercantum dengan jelas dalam panduan tiap muslim yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah.
“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Berkaitan dengan kewajiban orangtua membimbing anaknya dengan baik:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…” (TQS an-Nisaa’: 9)
Sobat, sebenernya dalam Islam para perempuan boleh (mubah) untuk bekerja di luar rumah. Hal ini bisa dilihat dari keumuman ayat:
“Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! maka Allah, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu.” (TQS. at-Taubah: 105)
Namun ada syaratnya, yaitu dalam pekerjaannya itu ia tetap menaati rambu-rambu syariat, terutama masalah porsi waktu bersama keluarga serta menjaga agar tidak terjadi ikhtilat (campur baur) dengan pria dan tidak menimbulkan fitnah.

Bahkan di masa Rasulullah صلى الله عليه و سلم juga banyak perempuan yang beraktivitas di luar rumah. Ada yang terjun di medan jihad sebagai perawat prajurit Islam yang luka. Bahkan pada zaman setelahnya banyak pula wanita yang berpendidikan tinggi namun tetap mampu menjaga tugas utamanya sebagai pengatur rumah tangga.

Nah sebagai seorang muslim, kita kudu paham prioritas amal. Mengerjakan yang wajib harus didahulukan baru kemudian yang sunnah dan mubah. Buat para muslimah, mengurus suami dan anak-anak adalah wajib, sementara bekerja atau beraktivitas di luar rumah hukumnya mubah. Jangan sampe suami dan anak-anak nggak diperhatiin karena kesibukannya di luar rumah.

Sistem hidup Islami jelas tak akan menistakan perempuan, justru malah memuliakannya. Sehingga jika hal ini diperjuangkan kemudian diterapkan tak perlu lagi ada yang dituntut oleh Kartini. Ya..andai Kartini tahu.
Peran Perempuan Dalam Islam
Sejalan dengan cita-cita perjuangan Kartini, dalam Islam perempuan berperan sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya. Peran ini adalah sebuah kelebihan yang diberikan oleh Allah سبحانه و تعالى‎. Kita bisa lihat generasi selevel Imam Ibnu Taimiyah, Ibnu Sina, Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Hanifah dan masih banyak jutaan lain ilmuwan yang  mengguncang dunia dengan karya-karyanya, adalah hasil didikan dari sosok ibu yang berkualitas dan terdidik.
“Setiap bayi itu dilahirkan atas dasar fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang (kemudian) membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari)
Sedangkan laki-laki secara fitrah adalah seorang pemimpin bagi kaum wanita.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).” (TQS. an-Nisaa’: 34)
Laki-laki dengan fitrahnya ini bukan berarti kuat dan bebas sewenang-wenang terhadap perempuan. Akan tetapi hal ini bermakna bahwa ia memiliki tanggungjawab untuk melindungi, menyayangi, dan menghormati perempuan.
Bercerminlah kepada Islam
Amat bijak tentunya bila kita mencoba mengembalikan semuanya kepada kebenaran ajaran Islam. Artinya, kita merujuk kepada Islam. Anna Rued dalam sebuah bukunya, Eastern Mail, menyebutkan bahwa “Kita harus iri kepada bangsa-bangsa Arab yang telah mendudukkan wanita pada tempatnya yang aman. Dimana hal itu jauh berbeda dengan keadaan di negeri ini (Inggris) yang membiarkan para gadisnya bekerja bersama laki-laki di kilang-kilang minyak, yang tidak saja menyalahi kodrat, tetapi bisa menghancurkan kehormatannya”.

Yup, demikian pengakuan jujur seorang penulis bule. Bagaimana dengan kita? Padahal kita udah punya panutan, yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang terang. Dan tak sedikit pula shahabiyah teladan di masa kejayaan Islam yang patut diacungi jempol. Kenapa kita tidak meneladani mereka?

Berikut adalah bukti nyata bahwa Islam sangat memuliakan perempuan. Suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria (terletak antara wilayah Irak dan Syam) berteriak minta tolong karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan ini ternyata terdengar oleh Khalifah Mu’tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja Sang Khalifah mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan itu. Bukan hanya kepada si pembesar romawi itu saja, gempuran dilancarkan langsung ke kerajaannya untuk membayar penghinaan tersebut. Tercatat 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi tawanan. Dahsyat kan?

Sayangnya, kondisi seperti itu belum bisa kita saksikan sekarang. Dan nggak bakalan kita saksikan selama sistem hidupannya bukan dari Islam. Dalam sistem kapitalisme seperti sekarang ini, rasa aman, kehormatan, dan kesucian diri amat mahal. Nggak bisa kita beli kalo kita nggak punya duit. Negara bukannya memberikan rasa aman, tapi sebaliknya, menyediakan fasilitas dan suasana yang bisa bikin kaum wanita menderita. Untuk itu, bercerminlah kepada Islam, khususnya bagi “Kartini-Kartini” abad ini. Dengan taat dan patuh kepada ajaran Islam, Insya Allah selamat dunia dan akhirat. [STUDIA, Gaul Islam, edited by rev24]


>>File buletin dalam format pdf dapat diunduh di sini

Edisi 1 - Ada Apa Dengan Rokok?

Kalo kita perhatiin, ngerokok alias ngudud bin nyemok udah jadi hal yang biasa di lingkungan kita. Nggak cuman di angkot, pinggir jalan, atau tempat umum lainnya, asap rokok ‘ngebul’ juga di lingkungan keseharian kita, seperti di rumah atau di sekolah. Dari mulai orang tua, pemuda hingga abege pun gak jarang keliatan lagi asik menghisapnya, bahkan mungkin diantaranya ada teman kita sendiri.

Jadi inget waktu SMP dulu, pernah lagi kebelet mau masuk wese, pas buka pintunya.. wuih seisi ruangan penuh ama asep rokok.. bayangin, wese yang biasa dipake untuk buang air udah beralih fungsi jadi tempat buang asep..ck ck ck. Gak heran kalo wese jadi tempat favorit temen-temen perokok karena saat itu memang cuman wese satu-satunya tempat yang aman dari pantauan pihak sekolah.

Budaya rokok di negeri ini emang makin merajalela. Sampe dr Nawi Ng MPH, PhD dari Quit Tobacco Indonesia (QTI) pernah bilang “Indonesia Termasuk 5 Negara dengan Konsumsi Rokok Terbesar di Dunia”. Beliau menambahkan, konsumsi tembakau di Indonesia meningkat 7 kali lipat dalam jangka waktu 3 tahun (1977-2000) dan prevalensi atau kecenderungan penggunaan tembakau di Indonesia telah meningkat dalam segala usia (ugm.ac.id, 27/07/07). Waduh!
Rokok Kian Menjerat Remaja
Global Youth Tobacco Survey (GYTS) WHO pada 2006 mengungkap, 37,3% anak-anak usia 13 hingga 15 tahun di Indonesia sudah merokok. Dan dalam GYTS 2007, jumlah perokok anak usia 13-18 tahun di Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia. Bahkan tiga dari sepuluh pelajar SMP di Indonesia (30,9%) mulai merokok sebelum umur 10 tahun. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat 4% tiap tahunnya. Komnas Perlindungan Anak (KNPA) mencatat bahwa tren merokok kian bergeser ke usia yang jauh lebih muda: lima tahun. ‘’Ini usia anak TK!,’’ kata Ketua KNPA, Ka’ Seto Mulyadi. (Republika, 02/03/08).

Berdasarkan penelitian di Universitas Andalas, motivasi anak merokok di usia dini adalah coba-coba, pengaruh teman, untuk meningkatkan kepercayaan diri ketika bergaul dengan teman, teladan orang tua, dan ingin terlihat lebih gagah kaya dalam iklan (Jambi Online,11/01/08).

Rupanya tren merokok bagi remaja kian menjadi tuntutan pergaulan. Terutama kalangan anak cowok. Kalo ada temennya yang anti rokok, dibilang banci. Walhasil, ada rasa gengsi dan malu kalo mulut nggak ikut ngebul pas lagi kumpul bareng. Tetep pede meski diselingi batuk-batuk dikit. Maklum pemula!

Nggak cuman anak cowok, remaja putri juga mulai banyak yang deket ama yang satu ini. Sebuah riset menemukan, rata-rata remaja merokok agar berat badannya turun dan langsing! Riset ini dirilis oleh Profesor Jenny O’Dea dari Universitas Sydney, Australia seperti dilansir ABC News Online, Rabu (13/7/2005). Keinginan ingin langsing itu diakui oleh 3% remaja perokok berusia 11 hingga 14 tahun dan 7% pada gadis muda sekitar 20 tahun yang dirisetnya (Detik.com, 13/07/05).

Makin lengketnya remaja dengan rokok banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Lantaran mereka hidup diantara para perokok aktif. Di rumah, ayah sering keliatan asyik ngepulin asap rokok sehabis makan atau selagi santai. Di sekolah, mulai dari tukang dagang sampe guru pun nggak ketinggalan merokok. Akhirnya, aturan larangan merokok dari guru atau ortu dianggap angin lalu. Ya iyalah, wong yang bikin aturannya sendiri ngerokok. Masuk akal dong kalo anak didik ikut meniru. Betul?

Pancingan untuk jadi perokok bagi remaja juga datang dari industri rokok. Tiap hari remaja dicekokin oleh iklan rokok yang menggoda dengan label keren, macho, en bikin confident. Menurut riset yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan tahun 2006, sebanyak 9.230 iklan rokok terdapat di televisi, 1.780 iklan di media cetak, dan 3.239 iklan di media luar ruang, seperti umbul-umbul, papan reklame, dan baliho (Kompas, 09/11/07). Hasilnya, penelitian Komnas Anak Jakarta menunjukan bahwa 99,7% remaja Jakarta terpapar iklan rokok lewat televisi; 36,7% terpapar iklan baliho di jalan dan media cetak; dan 81% pernah menghadiri kegiatan yang diselenggarakan atau disponsori industri rokok.

Dan sialnya, justeru kegiatan remaja yang paling banyak didukung sepenuh hati oleh industri rokok. Lantaran bagi produsen rokok, remaja adalah calon pelanggan tetap di hari esok. Dukungannya juga nggak setengah-setengah, dari promosi acara hingga pembagian rokok gratis di ’TKP’. Otomatis makin tak ada alasan bagi remaja untuk ’musuhan’ ama rokok.

Padahal kalo udah kecantol ngerokok, susah berhentinya. Awalnya karena tuntutan pergaulan, terus malah jadi kecanduan. Kandungan nikotin dalam rokok ini emang bersifat adiktif alias bikin ketagihan. Bawaannya mulut asem kalo sehari nggak ngerokok, katanya. Apalagi rokok dijual bebas. Dengan modal kurang dari serebu perak aja bisa dapet sebatang. Atau kalo lagi cekak, banyak temen yang nawarin gratisan. Gimana bisa berhenti kalo rokok bisa didapetin dengan mudah dan murah kayak gini!
Rokok dan Kesehatan Kita

Label peringatan akan bahaya rokok jelas-jelas tercantum di bungkus rokok meski dengan tulisan kecil. Tapi kayanya, nggak mempan tuh. Soalnya, bahaya rokok kan nggak kaya racun tikus yang sekali tenggak langsung bikin kejang-kejang. Rokok perlu waktu lama untuk nunjukkin bahayanya yang mematikan. Jadinya banyak perokok yang cuek bebek dengan bahaya rokok. Kecuali kalo udah kerasa sakitnya kali yaa..

Asap rokok diketahui mengandung 4.000 bahan kimia berbahaya. Dan lebih dari 250 diantaranya merupakan toksik atau karsinogenik penyebab kanker. Selain tar dan nikotin, dalam rokok juga ada aseton, butan, arsenik yang biasa ditemukan pada racun serangga; kadmium yang juga ditemukan pada aki mobil; karbon monoksida yang ditemukan pada asap knalpot mobil; serta toluen yang juga dipakai sebagai pelarut industri. Gile bener, emangnya tubuh kita tempat sampah?

Selain kanker paru-paru, kebiasaan ngerokok juga ngasih efek buruk pada kesehatan gigi dan mulut. Lidah jadi susah ngerasain rasa pahit, asin, dan manis, karena rusaknya ujung sensoris dari alat perasa (tastebuds) akibat tumpukan hasil pembakaran rokok yang berwarna hitam kecoklatan. Jumlah karang gigi yang bisa bikin gusi berdarah pada perokok cenderung lebih banyak daripada yang bukan perokok. Gigi dapat berubah warna karena tembakau. Dan perubahan mukosa (selaput lendir) akibat merokok menyebabkan kanker mulut (Gizi.net, 06/03/2008).

Bahkan kebiasaan ngerokok mengancam kesehatan organ seksual. Untuk cowok, bisa mengalami disfungsi ereksi alias impotensi kalo udah tua. Makalah ahli jantung dari RS Jantung Nasional Harapan Kita, Dr. Santoso Karo Karo, SpJP., menyebutkan rokok meningkatkan risiko terkena disfungsi ereksi hingga 50% -terutama berkaitan dengan masalah pada pembuluh darah (Rileks.com, 18/02/08).

Sementara wanita yang saat remaja diketahui menjadi penghisap rokok dikemudian hari akan mengalami resiko 21% terkena kanker payudara bila dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok. Demikian hasil penelitian Dr Janet E Olson dari Mayo Clinic College of Medicine di Rochester Minnesota (AS) yang dipublikasikan dalam ‘the journal, Mayo Clinic Proceedings‘ (JakNews.com, 16/12/05).

Saking banyaknya dampak buruk rokok bagi kesehatan kita, nggak heran kalo setiap tahunnya angka kematian di dunia mencapai lima juta orang diakibatkan berbagai penyakit yang disebabkan rokok, seperti kanker paru-paru dan penyakit jantung. Di Indonesia sendiri, menurut Demografi Universitas Indonesia, sebanyak 427.948 orang meninggal rata-rata per tahunnya. Dan angka kematian ini secara keseluruhan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat menjadi 10 juta orang di tahun 2030, dengan jumlah korban terbanyak berasal dari negara berkembang. Demikian menurut data Organisasi Paru Internasional (World Lung Foundation/WLF) (Kompas.com, 02/02/08).

Pren, masa iya sih kita masih anggap omong kosong bahaya rokok terhadap kesehatan kita. Jangan tertipu ama produk rokok rendah tar dan nikotin yang menyesatkan. Bahaya rokok nggak jadi berkurang dengan diturunkannya kadar tar dan nikotin. Yang ada, merokok produk ini cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama. Bisa-bisa kita jadi awet muda alias nggak akan pernah tua lantaran keburu tutup usia selagi belia. Nah lho?!
Ambil Sikap Terbaik!
Pren, bukan kewenangan kita untuk ngelarang kamu-kamu ngerokok. Kita cuman bisa ngasih pertimbangan untuk ngejauhin rokok. Karena apapun sikap yang diambil, kamu sendiri yang bakal ngerasain konsekuensinya. Bukan kita atau orang lain. Kamu yang bakal ngerasain segala macam gangguan kesehatan akibat rokok. Kamu juga yang bakal nikmatin sehatnya hidup tanpa rokok.

Dalam Islam, hukum merokok pun masih banyak perbedaan pendapat. Ada yang melarangnya dengan tegas sampe tingkat haram, ada juga yang larangannya sekedar makruh. Ini bukan berarti hukum Islam plin-plan alias nggak jelas. Justeru, ini menunjukkan kehati-hatian para ulama dalam menghukumi sesuatu. Karena status perbuatan dalam islam, ditentukan oleh dalil-dalil syar’i. Bukan cuman ngeliat dari akibat yang ditimbulkannya.

Meski begitu, kita sebagai muslim dilarang untuk melakukan perbuatan yang membahayakan diri bahkan orang lain. Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Ahmad, shahih)
Membahayakan diri sendiri aja udah enggak boleh apalagi kalo perbuatan yang kita lakukan bisa membuat kita ampe terluka atau terbunuh. Allah سبحانه و تعالى‎ berfirman:
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (TQS. an-Nisaa’ [4]: 29)
Nah pren, ternyata identitas sebatang rokok, bukan hanya mitos simbol kejantanan seperti yang digembor-gemborkan iklan. Tapi juga simbol penyakit kanker, impotensi, serta gangguan kesehatan lainnya. Dan pastinya, hidup tanpa rokok, nggak bikin kamu terhina kok. Malah jadi lebih keren dan sehat. Makanya, sangat beralasan bagi kita untuk nggak temenan ama rokok atau segera menghentikan kebiasaan ngerokok. Meski awalnya nggak mudah, asal serius dan konsisten Allah سبحانه و تعالى‎ pasti ngasih jalan keluar. Ayo kamu bisa!
[hafidz341@gmail.com, edited by rev24]


>>File buletin dalam format pdf dapat diunduh di sini

Edisi 0 - Say No To VD!

Bulan Februari kayaknya jadi bulannya para muda-mudi… lho kenapa? Karena banyak dari mereka yang sibuk berburu pernak-pernik bernuansa cinta. Buat para pebisnis, bulan Februari ini boleh dibilang “tambang uang”. Bisa kita lihat nuansa penuh warna pink di pusat-pusat perbelanjaan yang juga di semarakkan balon warna-warni berbentuk hati. Semua produk berlabel love alias cinta pun banyak dicari.



Banyak banget produk di tawarin. Mulai dari kartu ucapan, cokelat yang bentuk dan kemasannya bervariasi, bunga, boneka, bantal, aneka baju berwarna pink, pernak-pernik, hingga buku dan CD. Udah gitu, pakek diskon lagi! Gimana konsumen nggak ngiler?, tinggal pilih, cocok, bayar!.

Hari kasih sayang yang tiap taun jatuh pada tanggal 14 februari ini lho yang kita maksud. Dunia mengenalnya, valentine day’s. Momen yang udah pasti gak akan lewat dari pengamatan remaja sejagat raya. Bagi mereka, makna nya begitu spesial. Sehingga kian bejibun remaja-remaji yang ikut berpartisipasi dalam merayakannya dari tahun ke tahun.

Survey dilapangan perihal perayaan valentine ini seperti; biasanya para remaja merayakannya dengan cara ngasih ucapan, baik secara langsung, via kartu, sms, e-mail, yang pasti melankolis abis !. Ada juga acara tuker kado antar teman, atau makan bareng di cafe atau di rumah temen. Yang parahnya lagi, dari hasil survey ke lapangan, ada salah seorang remaja berpendapat, “biasanya temen-temen saya merayakan valentine dengan jalan-jalan bareng sama pacar, dan malahan ada yang booking di hotel dan berzina alias ML……”. Waduh!!

Sobat, makin serem aja yah ekspresi cinta remaja di bawah bendera valentine’s day. Padahal dari hasil survey itu semua, gak semua remaja yang tahu asal-usul tentang valentine’s day itu sendiri. Paling-paling tahu artinya hari kasih sayang doank. Gak lebih. Walau mereka aktif merayakannya setiap tahun. Emang sih, kebanyakan ikut-ikutan ajakan temen atau terprovokasi oleh media massa tapi tetep aja menikmati. Nah, biar kita semua pada gak penasaran, lebih baik kita intip dulu yuk sekilas tentang sejarah valentine’s day tersebut.
Sekilas Sejarah Valentine’s Day

Konon si empunya cerita, valentine day diperingati untuk mengenang jasa seorang pendeta kristen namanya St. Valentino tapi ada yang menceritakan St. Valentine beda huruf terakhirnya aja, yang hidup di Roma pada masa pemerintahan Kaisar Cladius II (268-270 M). Begini ceritanya, orang-orang Romawi merayakan acara untuk memperingati suatu hari yang menurut mereka bersejarah pada tanggal 15 Februari, mereka menamakannya Lupercalia untuk memperingati Juno (Dewa wanita dan perkawinan) serta Pan (Dewa dari alam ini). Acara ini berisi pesta muda-mudi yang memilih pasangannya masing-masing dengan menuliskan nama yang dimasukkan dalam jambangan kemudian diundi. Pasangan itu saling tukar kado sebagai pernyataan cinta kasih, acara dilanjutkan dari pesta dansa-dansi sampai pesta seks.

Setelah penyebaran Kristen, para pemuka gereja mencoba memberikan pengertian ajaran Kristen terhadap perayaan para pemuja berhala itu. Pada tahun 496 Masehi Paus Gelasius (Pope Gelagius) mengganti perayaan itu menjadi Saint Valentine's Day dan dipindah tanggalnya menjadi 14 Februari yang diperingati sebagai penghormatan bagi seorang pendeta yang dihukum mati pada tanggal tersebut.

Dalam sejarah Valentine para ahli sejarah tidak setuju dengan adanya upaya untuk mengaitkan hal itu dengan kematian St. Valentine yang dipenggal kepalanya di Palatine, tapi sejarah lain mengatakan acara valentine dikaitkan dengan St. Valentine yang lain, yang dikejar-kejar karena memasukkan suatu keluarga Romawi ke dalam Kristen, kemudian dia dipancung di Roma sekitar tahun 273 Masehi. Walhasil tidak sedikit versi cerita valentine day itu, tapi hasil akhirnya sama bahwa sejarah valentine day hanya rekaan dan bisa jadi bohong (kaget khan!).

Kata “Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada dewa orang Romawi yang tadi udah disebutin. Jadi sebenernya, kalo kita meminta orang “to be my Valentine”, hal itu berarti kita memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”. Dengan begitu kita udah menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Syirik tuh!

Jangan lupa, perayaan VD juga telah sukses menghanyutkan jutaan remaja muslim untuk memuja cinta. Waktu hidupnya habis dipake buat ngurusin cinta dan mengejar kepuasan hawa nafsu. Inilah salah satu potret keberhasilan serangan budaya barat untuk melemahkan mental generasi muda Islam. Dalam konferensi Misionaris di kota Quds (1935), Samuel Zweimer, seorang Yahudi yang menjabat direktur organisasi misi Kristen menyatakan: “Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim sebagai seorang Kristen. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas, dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsu.”

Pren, Islam nggak ngelarang kamu mengekpresikan cinta kepada lawan jenis asal diridhoi Allah سبحانه و تعالى‎. Tapi kalo dikemas dengan label VD? Hmm… kayanya kamu mesti hati-hati deh. Soalnya kan udah jelas kalo asal-usul VD itu dari budaya kufur. Rasul صلى الله عليه و سلم ngingetin kita dalam sabdanya:
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari golongan mereka” (HR Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar)
Meski demi menjaga hubungan baik ama temen, bukan berarti ngerayain VD jadi boleh lho. Sekedar ngucapin selamat juga mesti hati-hati. Seorang ulama sekelas Ibnul Qayyim mengingatkan, "Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Bagi yang mengucapkannya, berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah."

Pren, kalo kita sayang ama temen, ingetin deh mereka untuk tetep pede sebagai muslim dan say no to VD. Ikut ngerayain VD nggak bikin kita istimewa. Malah, bisa mengancam akidah dan bikin impoten potensi yang kita punya. Apa jadinya kalo remaja muslim lebih asyik mengejar kesenangan dunia dan lupa dengan urusan Islam dan Kaum Muslimin. Cuek bebek dengan kondisi sodara kita di Palestina. Acuh dengan masalah pendidikan, sosial, budaya, politik, sampe ekonomi akibat cengkeraman kapitalis sekuler yang ngatur hidup kita. Bisa-bisa, selamanya hidup kita sengsara. Makanya ayo kita sama-sama mulai dari sekarang: ikut ngaji, lupakan VD!
Cinta Kita Begitu Luas
Sobat muda muslim, mendengar obrolan remaja tentang cinta, sepertinya makna cinta itu makin menyempit. Sesempit ruang bernafas dalam KRD Cicalengka-Padalarang di pagi hari. Maknanya gak jauh berbeda dari cerita indah yang menghiasi rasa suka Haruno Sakura kepada Uchiha Sasuke dalam kisah Naruto. Selalu diartikan kasih asmara antar lawan jenis. Padahal Allah سبحانه و تعالى‎ Menciptakan rasa ini dalam diri manusia nggak Cuma dalam rangka memadu kasih dua insan yang tengah kasmaran. Bisa juga berupa kecintaan seorang bapak kepada anak dan istrinya, cinta kita pada ortu dan keluarga , atau kepada saudara seakidah , dan cinta kita kepada guru.

Seorang bapak, gak kenal lelah untuk mencari nafkah sebagai ekspresi cintanya kepada keluarga. Sekecil apapun kesempatan yang Allah سبحانه و تعالى‎ berikan untuk menghidupi keluarganya , akan dia kejar meski harus membanting tulang dan bermandikan keringat. Baginya, jadi pedagang asongan, tukang sampah, petugas parkir, bahkan pembantu sekalipun lebih terhormat dibanding seorang pencopet, maling, penjudi, bahkan pejabat yang korup.

Cinta kita kepada ortu seharusnya membuat kita belajar untuk mandiri dan berbakti kepadanya. Sebab Someday, kita pun akan jadi ortu yang mengurus keluarga sendiri dan juga mereka yang telah renta.

Cinta kepada saudara seakidah akan menghancurkan tembok sekolah, rumah, suku, atau negara yang menyekat kita seperti susahnya perjuangan umat Islam Indonesia dalam membela Saudara-saudaranya yang tengah di bantai oleh tentara zionis israel keparat di palestina pada awal muharam lalu. Dalam hadist Mutafaq alaih dari anas dari Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda:
“Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”
Dan yang terakhir adalah kecintaan kita kepada Allah سبحانه و تعالى‎ dan RasulNya صلى الله عليه و سلم. Menurut Al-Zujaj:
“Cintanya manusia kepada Allah‎ dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridho terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah.”
Nah sobat, inilah makna cinta bagi seorang muslim. Begitu Universal dan luas. Saking luasnya gak perlu dibatasi dengan hari khusus macam valentine day. Atau di ekspresikan dengan pacaran dan gaul bebas yang malah menghancurkan cinta itu sendiri kedalam jurang nafsu setan. Kita bisa mencintai sepanjang hari selama hidup kita dan tidak terbatas Cuma kepada lawan jenis saja. Karena itu, Syukurilah cinta dari Sang Pencipta cinta yaitu Allah سبحانه و تعالى‎.
Serangan Budaya Didepan Kita
Sobat muda muslim, di era bobroknya globalisasi kayak sekarang, memang gak gampang menghindari serangan budaya sekuler barat. Dunia begitu sempit. Sementara jangkuan pengaruh budaya itu malah makin meluas dengan bantuan kecanggihan teknologi, baik di dunia maya maupun nyata arus budaya itu keluar masuk gak pake karcis dan bebas menyapa remaja. Kondisi ini diperparah oleh kampanye “selamatkan remaja dari status jomblo” melalui tayangan sinetron atau reality show yang bertemakan cinta remaja. Pada akhirnya, kian banyak remaja yang tergoda untuk ikut-ikutan gaul bebas dan menodai cintanya dengan lumuran hawa nafsu. Ancur dah! Lantas mesti gimana donk?

Yaa, itulah hasil kebebasan berekspresi yang akhirnya berujung kebablasan berekspresi, dan demokrasi yang menjadi democrazy, semua orang gila berdemo untuk mempertahankan, melindungi, dan memperjuangkan aspirasi rakyat yang selalu dia acuhkan oleh penguasa pengkhianat umat. Budaya hedonisme yang menjadi-jadi ini menciptakan kerusakan moral remaja kian terpuruk, sehingga indonesia memecah rekor sebagai negara peringkat satu pelaku aborsi di Asia dan peringkat dua sebagai negara “terporno” didunia setelah Rusia. Aneh! Negara yang katanya mayoritas muslim tapi kok kayak gini ya???, sobat muslim harus tau, bahwa keterpurukan ini semua terjadi karena Islam gak dipandang lagi sebagai ideologi yang didalamnya terdapat sistem peraturan kehidupan yang lengkap banget. Kelengkapan Islam ini mulai dari ngatur masalah kita bersuci sampe ke masalah sistem pemerintahan. Ya!, itulah Islam yang kaffah (sempurna), dan Allah سبحانه و تعالى‎ telah mewajibkan setiap muslim untuk berislam secara kaffah. Mungkin, bencana-bencana yang melanda negeri kita tercinta ini terjadi karena kita gak mematuhi hukumNya secara keseluruhan kali ya???, ya donk!. Lalu apa solusinya?, buang sistem hidup barat, saatnya kita kembali menerapkan aturan-aturan Allah سبحانه و تعالى yang dibawa Rasul-Nya صلى الله عليه و سلم yaitu syariah dalam naungan khilafah, yang telah dijanjikan akan kembali lagi. Sebagaimana hadits dari Rasulullah صلى الله عليه و سلم:
“…Kemudian akan ada khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian (Beliau صلى الله عليه و سلم) diam” (HR. Ahmad)
Kita kembali ke urusan cinta.. Islam dalam hal ini udah ngatur ekspresinya biar gak ketuker ama ayam jago yang main sosor aja kalo udah kebelet. Nggak ada tuh yang namanya pacaran, HTS (Hubungan Tanpa Sex), ataupun pacaran islami. Yang ada dalam Islam adalah mekanisme khitbah dan nikah untuk penyaluran hasrat mencintai lawan jenis, yang pastinya lebih mantap dari pada sistem pergaulan cowok-cewek yang di punyai oleh barat. Dan perlu dicatet, mekanismenya Islam ini bukanlah pilihan, tapi kewajiban. Allah سبحانه و تعالى‎ Berfirman:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhkai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (TQS. Al-Ahzab [33]: 36)
Selain itu, kita juga kudu berani berkata ‘tidaaaaak…!’ pada ajakan teman untuk bermaksiat kepadaNya. Seperti berpartisipasi dalam perayaan valentine day, tahun baru masehi, April mop, dugem, atau gaul bebas dengan lawan jenis. Ngapain juga kita kudu ngikut ajakan dia??? Demi nilai persahabatan??? Huh gombal! Seorang sahabat yang baik dan benar, pasti ngajak kita untuk taat, bukan untuk bermaksiat. Catet bro!

Oke deh sobat, kita bukan anak kecil lagi yang gampang latah ngikutin ajakan temen yang gak bener. Kita udah cukup dewasa untuk menjadikan hidup ini lebih berarti. Sebab hidup gak cuman sekali. Ada kehidupan kedua di akhirat nanti yang perbuatan kita akan di hitung oleh-Nya.

Dan belajar terus tentang Islam menjadi pilihan terbaik dalam mengisi masa muda kita. Jadi tunggu apa lagi??? Haruskah nunggu kita tua berbau tanah???. Mari kita sama-sama ikut berjuang demi melanjutkan kembali kehidupan Islam dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Allahuakbar !! [Studia, Gaul Islam, edited by rev24]

Followers