Edisi 2 - Kartini, Emansipasi, dan Islam

Tak ada yang salah dengan perjuangan Kartini. Toh beliau memang hidup di alam penjajahan dan jaman feodalisme Jawa masih mengungkung erat. Jaman ketika perempuan masih dianggap rendah sekedar “konco wingking” alias teman di belakang bagi para pria. Maksudnya perempuan itu tempatnya cuma dapur, sumur, dan kasur. Astaghfirullah.. Perempuan nggak boleh ikut mengurusi selain ketiga hal itu. Karena urusannya cuma itu, maka nggak perlu perempuan sekolah tinggi-tinggi. Nggak ada gunanya. Toh, nanti kembalinya juga bakal ke dapur lagi.

Kartini, sebagai seorang perempuan cerdas, nggak terima dengan kondisi ini. Apalagi lingkungan bangsawan Jawa membuatnya sering bergaul dengan noni-noni Belanda yang dianggapnya mempunyai derajat lebih tinggi. Kartini pun ingin seperti mereka. Ia ingin derajat kaumnya meningkat melalui dunia pendidikan.

Nah, seringkali perjuangan Kartini dipelintir, berhenti cukup sampai di sini. Jadilah mereka menjadikan sosok Kartini sebagai sosok pejuang emansipasi yang berusaha memperjuangkan kesetaraan hak perempuan.

Mereka lupa (atau pura-pura lupa?) bahwa ada lanjutan dari kisah hidup perjalanan Kartini. Selain berkorespondensi dengan noni-noni Belanda, Kartini juga belajar membaca al-Quran dengan salah satu Kyai di jaman itu. Sayangnya, guru yang menjadi guru ngaji Kartini adalah orang yang berpikiran kolot dengan menyatakan bahwa kitab ini terlalu suci untuk diterjemahkan. Kartini sedih, bagaimana mungkin ia bisa memahami isi kitab suci bila ia tak mengerti makna apa yang dibacanya.

Dari sinilah diskusi-diskusi kecil Kartini muda tentang Islam dimulai. Hingga salah satu buku fenomenal yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang adalah terinspirasi dari salah satu ayat al-Quran (minadzulumaati ila nuur.. dari gelap menuju cahaya).

Tidak berhenti sampai disini, Kartini pun akhirnya menyadari bahwa apa yang diperjuangkannya bukan karena ingin bersaing dengan para pria. Pendidikan bagi perempuan yang ia maksudkan adalah sebagai upaya agar perempuan bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Karena anak-anak yang baik dan berkualitas hanya bisa terlahir dari ibu-ibu yang terdidik, bukan yang bodoh.

Kartini yang sempat kagum dengan kemajuan yang dicapai oleh wanita Barat akhirnya mengalami perubahan pemikiran setelah dirinya mengenal Islam: “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]. Artinya bahwa budaya Barat bukanlah parameter keberhasilan dalam pembentukan peradaban baru yang bermutu. Bravo Ibu Kartini!
Sejarah Memihak
Kembali ke sejarah Ibu Kartini, sebagian kalangan yakin bahwa sejarah indonesia kental dengan nuansa Jawa minded. Kartini yang gemar berkirim surat dengan noni-noni Belanda memang lebih terkenal dibanding Dewi Sartika, seorang pejuang pendidikan dari Sunda; juga Cut Nyak Dien, sang panglima perang dari Aceh; dan Malahayati, sang laksamana armada laut dari Aceh; atau Rohana Kudus dari Padang, seorang jurnalis perempuan pertama dari Indonesia.

Akan tetapi, dibanding nuansa Jawa minded, masih lebih kental nuansa meminggirkan peran Islam (dalam pembentukan peradaban). KH. Ahmad Dahlan telah mendirikan sekolah “Islam” Muhammadiyah di tahun 1908, beberapa tahun lebih dulu daripada sekolah Taman Siswa. Namun mengapa Ki Hajar Dewantoro yang jadi “Pahlawan Pendidikan”? Sama halnya dengan Sarekat Islam yang berdiri sebagai organisasi nasional “Islam” pertama yang berusaha mempersatukan bangsa dan bangkit melawan penjajah, namun mengapa organisasi Budi Utomo yang dianggap sebagai “Pelopor Kebangkitan Nasional”, padahal jelas-jelas anggota Budi Utomo hanya boleh dari suku Jawa?

Sudah saatnya bangsa ini meluruskan kembali sejarah nasionalnya. Bukan zamannya lagi meminggirkan peran Islam bahkan membungkam aktivisnya dengan dalih apa pun. Nama Malahayati, Tengku Fakinah, Rohana Kudus, Cutpo Fatimah, Nyak Raniah, Cutpo Hasbi dan banyak nama lain yang berawalan Cut telah menunjukkan kiprahnya tentang hak dan kewajiban berdasarkan Islam. Meskipun mereka bukan perempuan Jawa, so what?

Kartini tidak pernah meminta dilahirkan sebagai perempuan Jawa yang terkungkung dan terbelakang. Yang ia inginkan hanyalah hak perempuan untuk dihormati secara layak dan mendapat pendidikan sebaik-baiknya. Jadi tidak perlu mendramatisir kehidupan Kartini apalagi menungganginya atas nama kebebasan perempuan yang kebablasan yang kini lebih dikenal dengan istilah emansipasi.
Kartini dan Emansipasi
Sobat muda muslim, Yang Kartini perjuangkan itu adalah peningkatan harkat dan martabat wanita yang pada saat itu memang direndahkan dan juga menuntut hak-hak wanita yang memang sudah menjadi hak-nya seperti pendidikan dsb. Sangat berbeda dengan emansipasi wanita yang getol digembor-gemborkan barat sejak abad ke-14 M yang bertujuan agar wanita memperoleh persamaan hak dan kebebasan seperti kaum pria. Padahal dalam Islam udah dijelasin tadi kan kalo Pria dan wanita itu secara fitrah memiliki peran termasuk hak dan kewajiban yang berbeda.

Nyatanya, paham emansipasi yang kini berkembang di kaum muslimin dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu, sebutlah para Pengusaha. Di alam emansipasi ini, Pengusaha memberikan kesempatan kerja seluas-luasnya kepada wanita. Wanita mereka tempatkan sebagai komoditi industri. Diantaranya ialah di bidang periklanan. Wajah dan tubuh wanita yang menarik sengaja ditunjukkan untuk menarik minat dan selera konsumen. Coba bayangin, betapa konyolnya, iklan parfum belum lengkap kalau tak ada gadis berbodi aduhai yang mendampinginya. Wafer coklat rasanya belum manis kalau tak menyertakan penampilan gadis dengan bibir sensual yang mengunyahnya. Waduh..gaya dan kata-katanya bikin gimanaaa..gitu. Bahkan ada iklan wafer yang dibawakan dengan gerakan kaki. Apa hubungannya coba? Bener-bener dah kacau nih dunia.  Astaghfirullah..

Begitu banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya yang sengaja diberikan kepada kaum wanita untuk memanfaatkan kecantikan wajah dan keindahan tubuh mereka. Sebutlah presenter TV, artis sinetron, penyanyi, dsb.

Akibat lanjut dari semua ini pelecehan seksual menjadi tren tersendiri. Digandrungi sekaligus dikecam. Saling tunjuk hidung antara kaum cowok dan kaum cewek sudah biasa. Sama-sama tak mau disalahkan. Kaum pria protes ketika dituduh sebagai biang kerok pelecehan seksual. Ramai-ramai para pria berdalih bahwa penampilan para cewek yang menggoda-lah penyebabnya! Masalahnya beres? Tak cukup sampai di situ, ternyata kaum wanita juga menyalahkan para cowok karena mereka tak mampu menahan nafsu. Tak ada yang mau kalah dan disalahkan. Kacau banget kan? Itulah dampak buruk dari emansipasi ini. Masya Allah..

Sobat muda muslim, khususnya anak puteri calon Ibu (Amin..Insya Allah), jangan mau deh jadi korban gaya hidup sekarang. Maklumlah, kehidupan sekarang ini banyak godaannya. Keikutsertaan perempuan dalam aktivitas kehidupan di luar rumah dengan jumlah waktu yang lebih banyak, justru akan menjadi bumerang. Gimana nggak, kalo semua perempuan bekerja di luar rumah dengan semboyan P4 (pergi pagi pulang petang), maka dengan siapa nantinya anak-anak akan belajar tentang kehidupan? Lha, pas pergi anak masih tidur. Eh, pas dateng anak udah tidur. Gimana mau nyalurin kasih sayang ama perhatian dong? Itu semua dah banyak terjadi saat ini. Banyak anak yang terjerumus ke dalam “kenakalan remaja” gara-gara ortunya terlebih lagi ibunya gak membimbing dan perhatian ama mereka. Pantes..
Andai Kartini Tahu
Kasihan Kartini.. Andai ia sudah mengenal Islam saat itu sebagai sebuah sistem kehidupan, dan bukan hanya sebagai kitab yang terlalu suci untuk diterjemahkan, maka sudah tentu surat-surat semacam curhat dan keluhan Kartini itu tak akan muncul.

Sebaliknya, dia akan sibuk berkiprah di tengah masyarakat untuk memperjuangkan tegaknya sistem hidup Islam karena hal yang ia perjuangkan nyatanya sudah tercantum dengan jelas dalam panduan tiap muslim yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah.
“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Berkaitan dengan kewajiban orangtua membimbing anaknya dengan baik:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…” (TQS an-Nisaa’: 9)
Sobat, sebenernya dalam Islam para perempuan boleh (mubah) untuk bekerja di luar rumah. Hal ini bisa dilihat dari keumuman ayat:
“Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! maka Allah, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu.” (TQS. at-Taubah: 105)
Namun ada syaratnya, yaitu dalam pekerjaannya itu ia tetap menaati rambu-rambu syariat, terutama masalah porsi waktu bersama keluarga serta menjaga agar tidak terjadi ikhtilat (campur baur) dengan pria dan tidak menimbulkan fitnah.

Bahkan di masa Rasulullah صلى الله عليه و سلم juga banyak perempuan yang beraktivitas di luar rumah. Ada yang terjun di medan jihad sebagai perawat prajurit Islam yang luka. Bahkan pada zaman setelahnya banyak pula wanita yang berpendidikan tinggi namun tetap mampu menjaga tugas utamanya sebagai pengatur rumah tangga.

Nah sebagai seorang muslim, kita kudu paham prioritas amal. Mengerjakan yang wajib harus didahulukan baru kemudian yang sunnah dan mubah. Buat para muslimah, mengurus suami dan anak-anak adalah wajib, sementara bekerja atau beraktivitas di luar rumah hukumnya mubah. Jangan sampe suami dan anak-anak nggak diperhatiin karena kesibukannya di luar rumah.

Sistem hidup Islami jelas tak akan menistakan perempuan, justru malah memuliakannya. Sehingga jika hal ini diperjuangkan kemudian diterapkan tak perlu lagi ada yang dituntut oleh Kartini. Ya..andai Kartini tahu.
Peran Perempuan Dalam Islam
Sejalan dengan cita-cita perjuangan Kartini, dalam Islam perempuan berperan sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya. Peran ini adalah sebuah kelebihan yang diberikan oleh Allah سبحانه و تعالى‎. Kita bisa lihat generasi selevel Imam Ibnu Taimiyah, Ibnu Sina, Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Hanifah dan masih banyak jutaan lain ilmuwan yang  mengguncang dunia dengan karya-karyanya, adalah hasil didikan dari sosok ibu yang berkualitas dan terdidik.
“Setiap bayi itu dilahirkan atas dasar fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang (kemudian) membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari)
Sedangkan laki-laki secara fitrah adalah seorang pemimpin bagi kaum wanita.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).” (TQS. an-Nisaa’: 34)
Laki-laki dengan fitrahnya ini bukan berarti kuat dan bebas sewenang-wenang terhadap perempuan. Akan tetapi hal ini bermakna bahwa ia memiliki tanggungjawab untuk melindungi, menyayangi, dan menghormati perempuan.
Bercerminlah kepada Islam
Amat bijak tentunya bila kita mencoba mengembalikan semuanya kepada kebenaran ajaran Islam. Artinya, kita merujuk kepada Islam. Anna Rued dalam sebuah bukunya, Eastern Mail, menyebutkan bahwa “Kita harus iri kepada bangsa-bangsa Arab yang telah mendudukkan wanita pada tempatnya yang aman. Dimana hal itu jauh berbeda dengan keadaan di negeri ini (Inggris) yang membiarkan para gadisnya bekerja bersama laki-laki di kilang-kilang minyak, yang tidak saja menyalahi kodrat, tetapi bisa menghancurkan kehormatannya”.

Yup, demikian pengakuan jujur seorang penulis bule. Bagaimana dengan kita? Padahal kita udah punya panutan, yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang terang. Dan tak sedikit pula shahabiyah teladan di masa kejayaan Islam yang patut diacungi jempol. Kenapa kita tidak meneladani mereka?

Berikut adalah bukti nyata bahwa Islam sangat memuliakan perempuan. Suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria (terletak antara wilayah Irak dan Syam) berteriak minta tolong karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan ini ternyata terdengar oleh Khalifah Mu’tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja Sang Khalifah mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan itu. Bukan hanya kepada si pembesar romawi itu saja, gempuran dilancarkan langsung ke kerajaannya untuk membayar penghinaan tersebut. Tercatat 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi tawanan. Dahsyat kan?

Sayangnya, kondisi seperti itu belum bisa kita saksikan sekarang. Dan nggak bakalan kita saksikan selama sistem hidupannya bukan dari Islam. Dalam sistem kapitalisme seperti sekarang ini, rasa aman, kehormatan, dan kesucian diri amat mahal. Nggak bisa kita beli kalo kita nggak punya duit. Negara bukannya memberikan rasa aman, tapi sebaliknya, menyediakan fasilitas dan suasana yang bisa bikin kaum wanita menderita. Untuk itu, bercerminlah kepada Islam, khususnya bagi “Kartini-Kartini” abad ini. Dengan taat dan patuh kepada ajaran Islam, Insya Allah selamat dunia dan akhirat. [STUDIA, Gaul Islam, edited by rev24]


>>File buletin dalam format pdf dapat diunduh di sini

Followers